Dari Dayeuhkolot ke Stockholm! Part. 2

Part 2: Pengalaman Mendaftar Sekolah ke Swedia

(post ini merupakan serangkaian dari kisah perjalanan Sarah untuk mendapatkan sekolah tujuan masternya)

Disini saya akan menceritakan pengalaman serta persiapan apa saja yang saya lakukan untuk mendaftar sekolah ke Swedia sejak tahun 2013 hingga 2015.

Akhir Tahun 2013

Sejak seminar yang saya ceritakan pada post sebelumnya  saya mulai melirik Swedia, mencoba mencari pilihan lain selain Finlandia sebagai tujuan melanjutkan studi. Tidak lama setelah seminar tersebut, saya melihat poster Study in Sweden, saat itu juga saya mengirimkan pesan ke kontak di poster ([email protected])  dan memberitahukan minat saya untuk melanjutkan studi di Swedia. Lalu pada tanggal 10 Oktober 2013, saya menerima e-mail berisikan informasi penting seperti:

  1. Syarat-syarat umum yang diperlukan untuk mendaftar sekolah di swedia, meliputi : Legalisir Ijazah & trankrip (both in Bahasa and English), Passport, Sertifikat IELTS (min 6.5) atau TOEFL IBT (min. 90)
  2. Beasiswa yang tersedia untuk melanjutkan studi ke Swedia:Beasiswa Swedish Institute (Full Tuition fee, living cost, travel grant), Beasiswa dari Universitas (Full or partial of tuition fee), Beasiswa Dikti (umumnya untuk dosen) dan Beasiswa LPDP

Kemudian PIC Nordic Student Service, Ibu Titi, menanyakan hal-hal pribadi seperti sudah lulus atau belum, IPK dan sebagainya. Ketika melihat syarat yang diperlukan, saya langsung memikirkan persiapan khusus apa saja untuk masing-masing dokumen.

  1. Legalisir Ijazah & Transkrip, saya saja belum lulus, skripsi masih digarap, bingung apa alternatifnya.. saat itu saya sudah semester 7, semester terakhir saya di Telkom. Seperti yang diinformasikan saat seminar, mahasiswa tingkat akhir diperbolehkan mendaftar. Alternatif yang dapat diberikan saat mendaftar ialah “Surat Pernyataan Akan Lulus” yang diterbitkan dari Institusi. Saat itu saya bertanya ke pembimbing, disarankan untuk mencoba urus di fakultas. Namun, mohon maaf disini saya bukan bermaksud menggunjingkan fakultas saya sendiri, tapi kenyataannya fakultas saya saat itu tidak dapat membantu apa-apa, mereka malah berbalik bertanya “Ada jaminan apa kamu akan lulus di bulan Januari?”. Padahal, di Fakultas Informatika, surat sejenis bisa dikeluarkan.. Baiklah, hal ini menjadi kendala pertama mengapa saya tidak mendaftar di tahun 2014. (But, hey, mungkin tahun ini sudah bisa, coba dikonsultasikan ke Fakultas/Kemahasiswaan kampus)
  2. Passport, saat itu saya sudah memiliki passport yang baru expired di tahun 2016. Tidak menjadi masalah
  3. IELTS 6.5 and no section below 5.5, ini sejujurnya agak berat buat saya. Karena Bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus juga. Di 2013 itu, sambil memastikan dokumen-dokumen lain bisa disediakan atau tidak, saya mulai belajar IELTS secara mandiri, tidak les karena mahal, saya tidak mampu juga, end up belajar via website. Thank you, Internet. Namun, karena tes IELTS juga mahal dan tidak ada jaminan langsung lolos juga, saya memutuskan untuk mengambil tes IELTS lain waktu dengan biaya pribadi setelah kerja nanti. Ini kendala kedua mengapa saya tidak mendaftar di tahun 2014.

Dengan kendala-kendala diatas saya memutuskan untuk tidak mendaftar di tahun itu, fokus menyelesaikan amanah menjadi Kepala Departemen di Himpunan, dan fokus menyelesaikan Tugas Akhir, yang akhirnya bisa sidang pada tanggal 29 Januari 2014. Rasanya saya mau teriak “TUH KAN SAYA LULUS DI JANUARI!” heheu

Akhir Tahun 2014 – April 2015

Oke, kembali ke pendaftaran. Setelah saya mengumpulkan uang dari hasil kerja yang cukup sebentar, saya memberanikan diri untuk menjadi pengangguran kembali dan mengambil les intensive IELTS di TBI Fatmawati (Kisah khusus IELTS bisa dilihat di link ini) sambil menyiapkan dokumen-dokumen lain. Sesaat setelah resign, saya kembali di e-mail oleh Ibu Titi untuk menanyakan minat saya mendaftar di tahun itu. Kemudian setelah saya memutuskan untuk mendaftar tiga jurusan dan kampus di Swedia (Wireless Systems KTH, Communication eng Chalmers, Wireless Comm Lund) saya langsung menyiapkan dokumen-dokumen (umum dan khusus) yang diperlukan untuk mendaftar:

  1. Legalisir Ijazah dan Transkrip, Berbahasa Indonesia dan Inggris. Umumnya saat saya lulus, hanya diberikan Ijazah Bahasa Indonesia dan transkrip dua bahasa (indonesia dan inggris). Saya kemudian memohon penerbitan Ijazah Berbahasa Inggris ke Bagian Administrasi Akademik Universitas Telkom (yang sekarang berada di Gedung L, sebelumnya Asrama Putri) dengan memberikan surat permohonan (tidak ada format, yang penting mengandung nama, tanggal lahir, tahun lulus, legalisir ijazah). Kurang lebih dalam waktu 1 – 2 mingu ijazah berbahasa inggris pun jadi, ijazah dan transkrip aman. — Note khusus mahasiswa/mantan mahasiswa Telkom: Lebih baik minta ijazah berbahasa inggris dahulu. Kemudian legalisir ijazah indonesia, ijazah inggris, dan transkrip secara bersamaan. Lebih menghemat waktu.
  2. Passport, sudah ada dan expired di Januari 2016, masih aman untuk pendaftaran sekolah intake autumn 2015.  Passport, aman.
  3. IELTS Score, dengan minimum rata-rata 6.5 dan tidak ada nilai dibawah 5.5 untuk Reading, Listening, Writing dan Speaking. Alhamdulilah setelah les 2 bulan lebih, sampai juga nilai yang diinginkan (kisah IELTS detail di link ini). Nilai IELTS, aman.
  4. CV Europass, jadi Eropa memiliki format sendiri untuk CV nya. Dan CV yang diperlukan saat daftar sekolah saya, harus mengikuti format tersebut, berikut link format CV Europass
  5. Motivation Letter,  jujur untuk membuat Motivation letter perlu bersemedi sendiri. Karena disinilah kita “menjual diri” kita sendiri ke tujuan kampus kita. Disini kesempatan terbesar kita untuk menyatakan bahwa kita pantas untuk berada di jurusan dan kampus terkait. Motivation letter harus berisi: Alasan kita kenapa berniat untuk masuk jurusan tersebut, alasan kenapa kita pantas untuk berada di fakultas tersebut, apa yang akan kita lakukan saat kuliah disana, minat program/penelitian apa, apa yang akan kita lakukan setelah lulus nanti. Umumnya, universitas di luar negeri akan lebih senang jika kita state bahwa kita ingin kembali ke Indonesia dan ingin membangun Indonesia dengan ilmu yang kita raih di negara tujuan kampus kita. (link referensi untuk membuat motivation letter dapat di klik di sini) FYI, Jangan lupa melakukan riset terlebih dahulu mengenai jurusan dan kampus yang kamu tuju, agar lebih paham tentang program dan kampus itu sendiri. Kemudian penting untuk memahami GRAMMAR. Bahasa Inggris yang baik dan benar itu dapat menjadi nilai tambah.
  6. Recommendation Letters, pada jurusan tujuan saya, diminta untuk mengirimkan dua surat rekomendasi dari profesor, atau salah satunya boleh dari atasan di kantor kita bekerja. Namun karena saya baru bekerja selama 3 bulan saja, maka lebih baik jika meminta dari dosen di kampus (profesor  atau minimal PhD). Sebaiknya kita memohon surat rekomendasi dari dosen yang kita kenal baik, karena tentunya dosen yang kita kenal akan memberikan rekomendasi menurut pengalaman beliau sendiri terhadap kita.
    Karena dosen PhD di fakultas saya jarang (yang saya kenal), saya pertama meminta saran dari pembimbing tugas akhir mengenai sosok perekomendasi untuk application saya saat itu, dan beliau menyarankan untuk meminta ke mantan Dekan Fakultas Elektro yang merupakan PhD, pembina himpunan, dan juga penguji saya saat sidang skripsi. Saya kemudian menghubungi beliau, menceritakan rencana saya untuk apply master programme di Swedia. Beliau sangat ramah dan kooperatif, surat rekomendasi pertama pun saya dapatkan dengan lancar. Satu surat rekomendasi lagi.
    Untuk surat rekomendasi kedua, saya memberanikan diri untuk meminta surat rekomendasi dari Rektor Universitas Telkom, karena beliau satu-satunya profesor yang ada di lingkungan Universitas Telkom (cmiiw). Surat rekomendasi juga menjadi bahan pertimbangan diterima atau tidaknya kita, maka dari itu saya memperjuangkan untuk mendapat surat rekomendasi terbaik yang mungkin didapatkan. Saat itu saya memohon bantuan kepada Bapak Wakil Rektor I Universitas Telkom untuk mengurus surat rekomendasi. Tak disangka-sangka, dalam waktu kurang dari satu minggu, surat tersebut sudah ditandatangani oleh Bapak Rektor. Alhamdulilah, semua urusan saya dimudahkan, alhamdulilah saya dikelilingi oleh orang-orang baik yang senantiasa membantu orang yang memerlukan.
    Notes : pastikan sebelum meminta surat rekomendasi, kita sudah yakin 100% atas rencana kita. Harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “Kenapa pilih jurusan ini, kenapa mau negara ini, kenapa ga negara A/B/C, memang kamu mau ambil penelitian apa?, pulang mau jadi apa?” dan jangan lupa bawa CV, Ijazah, transkrip nilai, sertifikat dan bukti-bukti prestasi lainnya ketika memohon surat rekomendasi

Dan kemudian, semua dokumen lengkap. Khusus untuk Negara Swedia, seluruh pendaftaran Master Programme melalui satu portal university admissions. Sebelumnya saya sudah mendaftar disana. Saya menitipkan semua dokumen melalui Ibu Titi untuk dikirimkan ke Swedia. Oh iya, ada pendaftaran yang memerlukan biaya (seperti ke Swedia, sebesar 900 SEK) ada juga negara-negara lain yang gratis.

Sekitar 3 bulan kemudian, di bulan maret yang indah, saya mendapatkan info bahwa saya UNQUALIFIED untuk ketiga program yang saya pilih di KTH, Chalmers dan Lund.  Cukup shock dan sedih, karena perjuangan saya sudah bertahun-tahun, tapi gagal. Saya konsultasi kembali dengan Ibu Titi, dan diminta untuk urus appeal atau naik banding. Beberapa hari kemudian, saya Qualified untuk Chalmers, dan akhirnya Admitted di Chalmers.
Setelah saya mengirimkan email keberatan ke KTH dan Lund, saya mendapatkan kabar dari Lund mengenai alasan saya unqualified.Tertulis karena Universitas Telkom tidak terdaftar di database dunia sehingga tidak memenuhi standar untuk mendaftar. Saya langsung memohon saran kepada Bapak Wakil Rektor I Universitas Telkom untuk dapat memecahkan masalah tersebut, kemudian saya diberikan linkuntuk download surat resmi pergantian universitas di sini dan dokumen tersebut menjadi lampiran untuk appeals saya ke KTH dan Lund.

Kembali saya diberikan nikmat tiada tara oleh Allah SWT, pada tanggal 9 April 2015 saya mendapatkan email hasil appeal bahwa saya diterima di Wireless Systems MSc Programme, KTH Royal Institute of Technology, jurusan prioritas saya kala mendaftar sekolah di Swedia.

Demikian share pengalaman saya saat mendaftar Swedia, ini bukan sebagai panutan statis jika kalian mendaftar ya, mungkin cerita ini dapat dipergunakan sebagai referensi saja. Karena tidak semua dapat diaplikasikan pada rencana studi kalian, beda negara beda aturan, beda kampus atau jurusan pun beda aturan. Good Luck, Future Leaders 🙂

Yours Sincerely,

Annisa Sarah

Awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP PK-33
KTH Royal Institute of Technology (SE), Wireless Systems
Diambil dari: http://annisasarah.tumblr.com/post/119376440662/dari-dayeuhkolot-ke-stockholm-part-2

One Comment

  1. Pingback: Pengalaman Daftar Residence Permit Swedia Untuk Studi | Suryanara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *