Artikel di bawah adalah tips menghadapi seleksi wawancara dan LGD untuk beasiswa LPDP yang diambil dari blognya Wimba, Awardee PK-33 Suryanara, Owner dari Laboratorium Klinik Promedika, dengan tujuan studi Maastricht University (NL) jurusan Master of Biomedical Science. Dia <Jomblo>.

Yuk mari disimak dan Enjoy!


 

Halo Bro, Sis. Selamat datang di blog saya. Saya yakin yang pada akhirnya sampai pada postingan ini adalah orang-orang yang mengetik keyword “Wawancara dan LGD LPDP” dengan probabilitas 75% lulus seleksi administrasi dan akan mengikuti tahap wawancara dan LGD, karena saya pun dulu begitu. Hehehe. By the way, Saya ucapkan selamat dan turut berbahagia! Saya juga pernah di posisi teman-teman merasakan kebahagian tak terhingga yang tidak dapat ditukar dengan uang 10 juta (eh, bisa sih.. wkwkwk), tapi teman-teman akan lebih berbahagia lagi jika nanti lolos seleksi wawancara dan LGD Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP ini \:D/

First of all, yang harus kalian lakukan adalah bersyukur, bersyukur, bersyukur! karena telah melalui tahap pertama administrasi dengan segala lika-liku dan ribet-ribetnya. Bisa sampai tahap II ini adalah pencapaian tersendiri berkat usaha yang dilakukan serta dukungan dan doa dari orang-orang sekitar kita. Maka dari itu, jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Maksimalkan ikhtiar! Sebenarnya saya menulis postingan ini sebagai bentuk “balas budi” karena sebelum wawancara dan LGD browser saya dipenuhi tab-tab blog yang berisi postingan pengalaman seleksi tahap II ini yang dilalui orang banyak orang sebelumnya. Maka inilah postingan yang saya tulis, saya coba tulis “seringkas” mungkin berdasarkan pengamatan dan pengalaman. Semoga bermanfaat.

Beberapa hal yang harus teman-teman lakukan sebagai persiapan wawancara dan LGD adalah :

  1. Bersyukur, perbanyak doa dan giatkan ibadah serta perbanyak sedekah dan minta doa ke orang-orang terdekat kita terkhusus orang tua. Ini amat penting, karena faktor keberhasilan semata-mata tidak berasal dari diri kita. Barangkali kita bisa lolos berkat doa orang lain yang tulus ikhlas mendoakan. Hubungan dekat dengan Tuhan adalah suatu hal yang mutlak, manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga, Tuhan yang menentukan hasilnya.
  2. Blogwalking. Jalan-jalanlah ke banyak blog yang menceritakan seputar proses wawancara dan LGD LPDP. Kita akan menyerap banyak informasi dan tips-tips menghadapi seleksi ini, bahkan juga kalimat-kalimat motivasi. Informasi yang tersebar amat sangat random karena bersifat personal. Maka pandai-pandailah menarik kesimpulan dan benang merah antar satu sama lain. Really, kita sangat butuh info-info ini, jangan sampai kita kalah sebelum berperang karena kurang info.
  3. Pastikan dan siapkan semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan pada saat seleksi (daftar dokumen yang harus dibawa akan disebutkan pada email yang dikirim oleh LPDP).
  4. Jaga kesehatan agar kondisi tubuh fit pada hari H. Sakit akan amat sangat mempengaruhi performa kita.
  5. Banyak baca berita-berita terkini yang sedang marak dibahas sebagai bahan untuk LGD (Leaderless Group Discussion). Tidak perlu beli koran segala – karena gak akan kebaca juga, hahaha. Cukup googling dan baca portal berita online. Tapi beli koran dan DIBACA juga boleh banget, untuk memperdalam pemahaman karena sering ada insight dari para pakar. Detailnya saya bahas pada bagian LGD.

Okay, here we go!

Seleksi Administrasi

Saya bahas sedikit pengalaman saya, sayang kalau gak ditulis, hahaha. Saya mengikuti seleksi periode I tahun 2015. Pengalaman saya ini agak unik, karena saya submit pk 23.56 di hari deadline yaitu tanggal 23 Januari 2015! Deadline-nya sendiri pk 00.00, kalau 5 menit saja terlambat dan ter-submit di tanggal 24 Januari 2015, niscaya saya akan masuk seleksi tahap II. Duh, saya kapok jadi deadliner! Sebelum submit, kondisi yang saya hadapi sangat chaos karena essay – essay yang kelebihan kata dan harus dikurangi (menguranginya pun sulit sekali karena merasa semua penting), nge-print surat pernyataan – tanda tangan – lalu di-scan ke format PDF, belum lagi mengompres dokumen-dokumen PDF karena ada batas maksimal yang bisa di-submit. Untung saya dibantu teman saya dan itu pun dikerjakan di rumahnya. Saya teriak-teriak panik tengah malam (gak teriak deng, malu sama ortu teman :p ) keringat dingin bercucuran karena waktu yang mepet. Ini salah satu hal ekstrim yang memacu adrenalin, sambil panik saya tarik-buang napas, menit-menit yang sangat menegangkan.

Akhirnya, yes, dengan rahmat Tuhan yang Maha Kuasa serta didorong oleh keinginan yang luhur, berhasil! Hikmahnya : jangan jadi deadliner, persiapkan segala dokumen jauh-jauh hari sebelum tanggal deadline, jangan buat essay sehari jadi, karena sesungguhnya buat essay LPDP itu lama dan butuh kontemplasi. Kalaupun kalian mepet masukin dokumen di hari deadline, pastikan ditemani seorang teman yang nggak gaptek dan pakai 2 laptop juga printer ber-scanner, akan sangat membantu.

Seleksi Wawancara

Tanggal 3 Februari 2015, tepat 11 hari setelah submit, saya dinyatakan lolos seleksi administrasi dan berlanjut untuk mengikuti seleksi wawancara dan LGD. Pengumumannya secara tak sengaja saya lihat di akun facebook LPDP, saya kira 1 minggu lagi baru keluar pengumumannya. Senang tak terkira sekaligus deg-deg-an. Untuk sampai tahap ini telah banyak hal-hal yang saya lalui dalam perjuangan “go abroad“. Saat itu juga saya bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Pengumuman lokasi seleksi baru saya dapat beberapa hari kemudian, dan pembagian kelompok wawancara dan LGD baru saya dapat 3 hari sebelum hari H. FYI, ada tiga kemungkinan yang akan kita dapat mengenai jadwal wawancara dan LGD. Ada yang dapat wawancara dan LGD-nya di hari yang sama, ada yang wawancara di hari pertama dan LGD di hari kedua atau sebaliknya, LGD di hari pertama dan wawancara di hari kedua. Semua sudah terjadwalkan sesuai dengan pengelompokan beserta waktu yang ditetapkan. Yang jelas, pada hari pertama, kita diharuskan datang pagi sekitar pk 8.00 sekalipun jadwal seleksi kita di siang hari, untuk mengikuti pembukaan dan registrasi serta validasi dokumen. So, jangan sampai ada dokumen yang tertinggal atau dokumen yang tidak sesuai format LPDP (seperti format surat penyataan, itu harus sama, kalau tidak disuruh ketik dan print ulang). Untuk hari kedua (misalnya dapat seleksi 2 hari) pastikan kita datang 1 jam bahkan 2 jam sebelum, karena waktu seleksi belum tentu tepat, bisa maju lebih awal atau mundur terlambat terutama pada seleksi wawancara.

Wawancara dilakukan di sebuah ruangan luas (aula atau auditorium) dengan banyak meja. Tapi tenang saja, kita hanya menghampiri satu meja sesuai dengan nomor kelompok kita, di depan meja akan tertulis nomor, saya ada di kelompok 14 dari 16 kelompok (kalau tidak salah). 1 meja terdiri dari 3 interviewer yang terdiri dari 2 akademisi dan 1 psikolog dan saya baru menyadari sebelum masuk ruangan jika kita dikelompokkan sesuai dengan bidang keilmuan dan pastinya interviewer kita akan berasal dari rumpun keilmuan yang sama sebutlah kesehatan, teknik, ekonomi, bahasa dan budaya, agama, dan sebagainya.

Wawancara dapat dilakukan dalam 2 bahasa 50% English 50% Indonesia, atau 100% Indonesia, atau 100% English, jadi bersiap-siaplah dengan segala kemungkinan. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, akan sangat berbeda antar satu orang dengan orang lainnya, namun dapat saya perkirakan (gak berani nulis “namun, dapat saya pastikan” haha) bahwa pertanyaan-pertanyaan berkisar :

  • Kehidupan pribadi (pekerjaan, keluarga (kadang bagian keluarga ini agak sensitif dan membuat perasaan mengharu biru), background pendidikan)
  • Motivasi melanjutkan studi (apabila kita apply ke luar negeri ditanya “kenapa gak di dalam negeri?’ apabila apply ke dalam negeri ditanya “kenapa gak ke luar negeri sekalian?” hehehe)
  • Mengapa mengambil program X di Universitas Y
  • Rencana studi (pastikan kita hapal sekali seluk beluk program yang akan kita ambil, universitas, sampai kota dan negara dimana kita akan kuliah)
  • Visi dan kontribusi kedepan untu Indonesia (pastikan visi yang akan kita paparkan sesuai dengan essay yang telah kita submit, apabila ada perubahan pandai-pandai merangkaikan benang merah pada visi di essay. Kita juga kemungkinan akan ditanya tentang kontribusi apa yang telah kita lakukan selama ini)
  • Sisanya hal-hal random (apabila kalian blogwalking, kalian akan menemukan orang-orang yang disuruh nyanyi lagu daerah/nasional, ditanya “apa kelebihan dan kekurangan kamu” “kenapa kamu pantas menerima beasiswa ini”, disuruh menari karena di CV-nya pernah ikut organisasi menari, menyebutkan Pancasila dalam bahasa inggris dan macam-macam lainnya – dan hal-hal random seperti inilah sebenarnya yang bikin saya nervous.)

Wawancara ini memakan waktu yang berbeda antar kandidat. Ada yang 45 menit bahkan lebih, ada yang hanya 15 menit sudah selesai. Lamanya waktu kita diwawancara tidak mengindikasikan apakah kita berhasil atau tidak. Hipotesa saya adalah :

  • Apabila waktunya lama bisa jadi : Performa kita menarik para interviewer sehingga mereka ingin tahu lebih banyak tentang diri kita atau interviewer merasa belum yakin terhadap diri kita sehingga mereka butuh informasi lebih banyak lagi dari kita
  • Apabila waktunya sebentar bisa jadi : Performa kita baik, sehingga interviewer puas dengan kita dan merasa tak perlu membuang waktu lebih lama dengan menanyakan hal lainnya atau bisa jadi kita tak menarik sedari awal sehingga mereka merasa tak ada yang perlu digali lagi dari kita lebih dalam.

Tips terjitu : berusaha jadi diri sendiri dengan versi terbaik. Tidak perlu berubah menjadi orang lain untuk terlihat hebat. Kita adalah kita, akumulasi dari hal-hal yang telah kita lakukan di hari-hari sebelumnya. Jika kita terlihat palsu, ada psikolog yang bisa menilai. Oleh karena itu, berpikir positif sangat penting karena akan membawa aura positif yang dapat dirasakan para interviewer dan menjadikan gesture juga mimik wajah kita berseri, berpakaian rapi sopan yang membuat kita nyaman serta percaya diri, siapkan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan inti yang sudah saya sampaikan diatas, jangan pernah panik karena panik hanya akan memperburuk keadaan, dan jujurlah pada diri sendiri dan para interviewer.

Seleksi wawancara beasiswa LPDP ini menarik, karena tidak ada kuota tertentu seperti kuota jenis kelamin, daerah, atau rumpun keilmuan. Dan kita tidak berkompetisi dengan orang lain jadi tidak perlu merasa terintimidasi dan rendah diri melihat kandidat lain, berkenalan serta bercakap-cakaplah dengan kandidat lain untuk menambah teman sekaligus meringankan ketegangan. Disini kita berkompetisi dengan diri kita sendiri berusaha memenuhi standar yang LPDP mau. Coba baca lagi visi-misi LPDP, itulah ekspektasi dari LPDP bagi para calon awardee-nya. Tunjukkan bahwa kita adalah orang yang gigih, pantang menyerah, memiliki visi yang bagus dengan bentuk kontribusi konkrit untuk Indonesia. Saya jamin, orang yang menunjukkan keegoisan dirinya tidak akan pernah dapat diterima pada beasiswa ini, sebagus apapun dia me-make-up bentuk egoisnya. Belum punya LoA belum tentu jadi tidak lolos, sudah punya LoA belum tentu juga akan jadi lolos.

Pertama kali saya datang ke lokasi, ruangan penuh dengan banyak orang berpakaian rapi, mungkin ada sekitar 400 orang (lokasi wawancara saya di Bandung), seketika saya merasa sedang mengikuti audisi Indonesian Idol, hahaha. Jadwal wawancara saya di hari pertama pk.11.00, tapi saya kebagian giliran pk13.00 dengan sebelumnya dijeda sholat jumat dan makan siang. Pagi-pagi sebelumnya, saya mengisi daftar hadir serta melakukan validasi dokumen. Tepat pk13.00 saya dipanggil ke dalam. Tak lupa saya ucapkan “Bismillah” seraya memantapkan hati. Hal pertama yang saya lakukan adalah memberi salam dan menyalami interviewer satu per satu kemudian duduk di kursi yang disediakan setelah dipersilakan. Saya ingat sekali dialog pertama yang terjadi :

Interviewer : “How are you?”
Saya : “Quite fine”
Interviewer : “You look so happy!”
Saya : “O really, actually i’m a bit nervous”

 

Sebuah pertanda yang baik, itu artinya aura positif saya terpancar secara membabi buta dari wajah saya. Setengah babak pertanyaan-pertanyaan menggunakan Bahasa Inggris, setengah babak sisanya menggunakan Bahasa Indonesia. Diawali pertanyaan ringan tentang motivasi berkuliah dilanjutkan pertanyaan seputar program master dan universitas yang dipilih, selanjutnya interviewer mengelaborasi statement yang saya gunakan dalam menjawab pertanyaan sebelumnya. Saya mengemukakan tentang problem yang ada pada profesi saya dan pada akhirnya terjadilah diskusi yang cukup komprehensif soal pendidikan profesi, industri sampai dengan kondisi dunia kesehatan di Indonesia (karena saya seorang tenaga kesehatan). Mereka bertanya tentang rencana saya seusai berkuliah nanti dan para interviewer agak terkejut karena rencana saya beyond their expectation. Apa yang mereka ekspektasikan sudah saya jalankan pada saat ini. One big point that i got, i think. Kemudian mereka memastikan struktur program studi yang akan saya ambil, menanyakannya secara mendetail serta memastikan bahwa saya mampu mengikutinya. Pertanyaan selanjutnya hanya seputar orang tua dan “sudah punya pacar belum” wkwkwkwk.. Kemudian wawancara pun usai. Kurang lebih hanya memakan waktu 20 menit. Saya agak cemas pada awalnya karena wawancara saya singkat sekali, namun saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya sudah berusaha semaksimal mungkin men-deliver diri saya seutuhnya dan saya merasa para interviewer sudah melihat kualitas diri saya melalui wawancara tadi.

Seleksi LGD (Leaderless Group Discussion)

LGD adalah seleksi selanjutnya. Pada LGD kita akan dikelompokkan secara acak menjadi 1 tim yang terdiri dari 8 – 10 orang. Kita memasuki ruangan bermeja bundar dengan 2 psikolog didalamnya sebagai tim penilai. Pada LGD ini kita diminta untuk mendiskusikan satu topik yang diberikan oleh tim penilai dan kita harus mendiskusikannya dalam waktu 40 menit – sudah termasuk membaca artikel 5 menit. Selanjutnya diskusi diserahkan kepada kita tanpa ada intervensi apapun dari tim penilai. Sebelumnya tim penilai meminta kita membagi peran untuk beropini sesuai dengan sudut pandang peran yang kita ambil seperti Akademisi, Profesional, Masyarakat, dan Aktivis. Pembagiannya bebas disepakati dalam satu tim. Biasanya sebelum memulai kita menetapkan siapa yang menjadi moderator diskusi dan notulen untuk mencatat hal-hal penting. Kita juga diberikan kertas kosong dan pulpen untuk menuliskan buah pikiran selama diskusi untuk kemudian dikumpulkan di akhir LGD.

LGD ini menurut opini saya bertujuan menilai bagaimana karakteristik kita dalam berkomunikasi. Jangan terlalu pasif, jangan juga terlalu mendominasi. Hormati orang yang sedang berbicara, jangan sekali-kali menyela pembicaraan. Pastikan semua orang mendapat porsi sama rata dalam beropini. Persilakan dan dorong orang yang sekiranya sedikit berpendapat untuk mengemukakan pendapatnya agar mendapat porsi bicara yang pas dan sama dengan yang lainnya.

Hal penting lainnya adalah kuasai materinya! Walaupun penilaian ini tidak terlalu melihat bobot bicara kita (mungkin, hanya asumsi) namun isi otak kita terhadap topik yang dibicarakan akan sangat mempengaruhi performa kita, rasa percaya diri yang kita munculkan serta gesture tubuh dan ekspresi wajah yang kita buat. Perbanyak baca berita dan bikin sebuah daftar perkiraan isu/topik yang akan keluar. Antar satu kelompok akan berbeda dengan kelompok lainnya, akan ada topik yang berulang namun sifatnya sangat random. Ini daftar isu-isu yang keluar pada periode 1 tahun 2015 kemarin (berdasarkan hasil bertanya kepada kandidat-kandidat lain saat itu)

  • Ujian Nasional
  • Kurikulum 2013
  • UU Minerba (Kaitannya dengan perpanjangan kontrak Freeport)
  • Hukuman mati untuk terpidana Narkoba
  • Hukuman mat untuk koruptor
  • HIV – AIDS
  • Papua
  • KPK vs Polri
  • Kebijakan penghapusan tiket murah pesawat

Selalu bersiap dan waspadalah. Perkirakan sendiri apa saja isu/topik yang akan keluar berdasarkan isu yang berkembang.

Seleksi LGD saya berlangsung di hari kedua, saya mendapat jadwal pk.11.30. Saya sudah datang 2 jam sebelumnya, sambil berkenalan dengan teman satu kelompok saya, saya membaca-baca portal berita online alih-alih untuk membuat hati tenang, hahaha. Selanjutnya saya dan kelompok yang terdiri dari 8 orang masuk ke ruangan. Kami mendapat topik tentang Ujian Nasional, alhamdulillah masih dapat kami kuasai, mungkin karena pernah mengalami. Diskusi berjalan lancar, semua mendapat porsi sama rata, waktu tak terasa sekali cepat berlalu. Setelah kami keluar ruangan kami saling bersalaman dan mendoakan semoga semua lolos :D. Rasanya lega sekali, telah melewati semua seleksi, kini tinggal berdoa minta diberikan yang terbaik.

Mulai Periode III tahun 2015 akan ada seleksi tambahan yaitu Writing Essay on the spot, saya tidak bisa bercerita karena tidak mengalami. Mungkin dapat ditanyakan kepada awardee yang memperoleh Beasiswa Presidensial LPDP karena mereka mendapat tes ini pada seleksinya. Beruntunglah teman-teman kandidat pada periode II tahun 2015 🙂 Syarat administrasi pun mulai periode III ditambahkan seperti SKCK, surat kelakukan baik, dll. Selengkapnya silakan dilihat di www.lpdp.kemekeu.go.id.

Dan penantian panjang dimulai

Rasanya lama sekali menunggu pengumuman wawancara dan LGD. Waktu berjalan sangat lambat. Saya hanya bisa berdoa dan pasrah. Sembari berpikir rencana B apa yang harus saya lakukan jika gagal. Dan tanggal 10 Maret 2015 pun tiba, hasilnya adalah :

Bahagia rasanya, tidak bisa digambarkan dengan kata-kata :’)

Begitulah cerita saya, isi memori dan opini saya soal seleksi wawancara dan LGD BPI LPDP di postingan ini bersifat sangat subjektif. Semoga dapat diambil manfaatnya. Good Luck untuk semua! Pasti Bisa! Harus Bisa! \:D/

Posting berikutnya saya akan bercerita Persiapan Keberangkatan LPDP

Salam Hangat,

 

Wimba Widagdho D
Awardee BPI LPDP PK-33

39 Comments

  1. Selamat sore mas. Says Anton sipayung dr Medan. Saat ini saya sedang dlm proses persiapan berkas lpdp periods me 3. Saya mau minta bantuan mas untuk mengoreksi essay dan rencana studi saya sebelum saya kirim. Boleh tau alamat emailnya mas.? Terima kasih

    kind regards
    Antonio Sipayung

    antonio sipayung
  2. Uwaaaa… sambil baca sambil bayangin klo saya bsa sprti masnya.. hehehe.. degdegan.. smga yang sta byangkn bsa sma dgn knyataan..
    Trima kasih, bwt crtanya, juga bwt bahasa “kekinian”nya (niru mas yg d atas) dibacanya ndak bosen.. #^_^

    desy
  3. Terima kasih mas sudah mau berbagi. Saya rencananya lolos administrasi utk periode 3.

    Sharing dari para awardee sangat brguna bagi para pelamar saat menyiapkan dokumen maupun saat mengikuti seleksi2 selanjutnya.

    Sukses ya mas untuk sekolahnya!

  4. Dear Mas Wimba

    Perkenalkan saya Dedih, sekarang saya tinggal di Bandung. Kalau berkenan,bisakah saya tahu atau sekedar diskusi dengan mas wimba terkait proses wawancara dan juga seputar kuliahnya, kebetulan saya juga orang kesehatan. Siapa tau bisa sharing..

    Terima Kasih

    Dedih Suandi
  5. Pingback: Melanjutkan Studi S2 dengan LPDP | Food Engineer

  6. Pingback: Mitos dan Fakta Beasiswa LPDP - Part 2 | IDBeasiswa

  7. hallo suryanara,,,terimakasih sdh sharing pengalaman,,saya adalah calon pelamar beasiswa doktoral dalam negeri UGM,, boleh sya bertanya,,, jika di kolom prestasi di submit pendaftaran online tdk diisi bgmn? apakah tidK akan lolos pemberkasan?? ohya penjelasan anda kurang jelas ttg hal apa yg sdh anda raih sehingga jadi big point beyond the interviewer’s expectation????

    kharisma puspita
  8. Terima kasih sudah sharing pengalamannya kak. Oh iya, mau tanya setelah lolos tahap interview/LGD kan ada yang namanya PK, apakah kita bisa tidak lolos pada tahap PK? terima kasih kak.

    Rizky Adhitya
  9. Pingback: Tips Lolos Seleksi Beasiswa LPDP – SHAMICS.COM

  10. Pingback: Tips Lolos Seleksi Beasiswa LPDP – Daha Cendikia

  11. Pingback: Berburu Beasiswa LPDP | Catatan Pinggir

  12. siang ak, saya berencana untuk mendaftar LPDP, sya boleh tanya” sama kakak tentang lpdp enggk ya. di atas sudah disebutkan email kakak, langsung saya kirim email aja pertanyaan saya apa boleh kak

    terima kasih

    cika
  13. Pingback: Tips Agar Lolos Beasiswa LPDP - SekolahSD - Tempat Sharing Kurikulum Belajar dari Tingkat SD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.